Belajar DIAM!

Saya dan mungkin Anda, sangat suka berbicara, berpendapat, berdebat, mengeluarkan wawasan yang sudah pernah didengar, baik itu dari buku, guru/ustadz, kyai, ortu, teman, bahkan dari tweet teman social media. Adu pendapat, adu argumen, adu wawasan, secara tidak sadar kita alami sangat sering di keseharian. Ketika ngobrol dengan kawan, atau sekedar dengan orang yang baru kita kenal.

Kelihatannya, keren, bisa nunjukin kalau kita orang yang 'update', berwawasan luas, sampai kalau berdebat dada kita terasa panas karena ingin memenangkan perdebatan dan mendapatkan pengakuan dari teman kita bahwa SAYA lah yang benar, ANDA salah, kira-kira begitu kan?!

Ya begitulah, sehari-hari kita sering 'berkompetisi' yang ga ada gunanya. Sekelihatan bagus apapun debat, tetap aja kita dianjurkan untuk meninggalkan perdebatan, hadistnya di bagian bawah halaman ini buat yang belum pernah denger. Mungkin salah satu alasannya adalah karena dampak perdebatan itu ga bagus, efek ke diri kita pun ga bagus, pernah ngerasa begitu kan pasti?!

Berkaitan dengan perdebatan, mungkin sudah saatnya kita belajar untuk diam. "Diam itu emas" bukan sekedar ucapan kosong yang tak berarti apa-apa kawan. Diam memang emas, saat diam itu kita bisa berpikir, kita bisa mendengarkan orang lain, bukan kah lebih baik dibanding teriak-teriak memaksaskan pendapat kita yang harus dianggap benar. Berkatalah yang baik atau lebih baik diam!

Saat diam itu kita bisa belajar untuk rendah diri, iya, belajar rendah diri dengan memulai diam saat kita bernafsu untuk mengeluarkan pendapat kita. Lalu kapan kita berbicara?

Jika kita memang dibutuhkan pendapatnya, misal dalam musyawarah, bukan perdebatan, maka kita bisa mengeluarkan pendapat kita, tanpa perlu bernafsu untuk dianggap paling benar dan paling pintar. Pada dasarnya, kita tidak tau, siapa sih yang paling pintar di antara teman-teman kita, siapa sih yang pendapatnya benar, kita atau mereka, kita ga tau pasti 100%, kita hanya berusaha mencari kebenaran, itu kalau dalam musyawarah.

Dalam perdebatan, kita benar-benar dianjurkan segera mungkin meninggalkan perdebatan. Untuk yang belum percaya kalau perdebatan ga ada manfaatnya, silahkan ingat-ingat lagi, silahkan perhatikan kalau Anda sedang ngobrol dan debat dengan kawan Anda, silahkan lihat perdebatan di acara TV, dsb.

Lalu apakah tidak boleh menyuarakan kebenaran?

Pastinya boleh bahkan pada beberapa skenario harus. Namun, ketika sudah menjadi perdebatan, di situlah kita sebaiknya meninggalkan. Perlu diingat bahwa konteks perdebatan dengan musyawarah berbeda ya, dalam musyawarah memang sering terjadi perdebatan di antara anggotanya, di situlah dibutuhkan pemimpin yang adil dan bijaksana.

Apakah hanya perdebatan yang ditinggalkan?

Tidak, obrolan, perkataan yang tidak bermanfaat pun harus ditinggalkan dan berusaha untuk diam selagi kita tidak bisa mengatakan hal yang baik. Berkatalah yang baik atau diam!

Sayangnya, yang terjadi justru kita akan merasa tidak nyaman dengan orang di dekat kita ketika kita tidak ngobrol, jadilah yang diobrolin hal-hal yang tercela, ngomongin orang lain misalnya, hibah, atau bergosip, bercanda, dan segala perkataan yang tidak bermanfaat.

Allahu a'lam..

Hadist tentang anjuran meninggalkan perdebatan;

أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِى رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا وَبِبَيْتٍ فِى وَسَطِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ وَإِنْ كَانَ مَازِحًا وَبِبَيْتٍ فِى أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسَّنَ خُلُقَهُ
“Aku menjamin sebuah rumah di pinggir jannah (surga) bagi siapa saja yang meninggalkan perdebatan berkepanjangan meskipun ia dalam kebenaran (al haq), juga sebuah rumah di tengah jannah bagi siapa  saja yang meninggalkan berbohong walaupun ia sedang bercanda, serta sebuah rumah di puncak jannah bagi siapa  saja yang berakhlak mulia.”
(HR. Abu Dawud, Dinyatakan Hasan shahih oleh Syaikh Al Albani)

0 Response to "Belajar DIAM!"

Post a Comment