Terkotorinya Independensi Karena Sponsor

Sampai detik ini, saya sudah menerima beberapa job artikel review dari perusahaan. Entah itu hanya bertujuan untuk backlink, ataupun backlink sekaligus promo atau iklan.

Dan yang paling saya rasakan adalah, saya tidak bisa bicara jelek tentang sebuah produk. Yeah, meskipun saya paling jarang jelekin produk, tapi tetep aja, pada beberapa poin saya selalu jujur jika ada yang kurang.

Namun ketika saya sadar bahwa artikel ini akan berdampak pada perusahaan yang membayar saya, rasanya ga enak aja gitu kalau ngejelekin produk yang akan dijual.

Jadi, biasanya saya tetap menuliskan hal yang jelek namun dengan pembelaan, solusi, atau apapun itu yang bisa menutup kekurangan sebuah produk.

Pada dasarnya ga ada produk jelek. Ada harga ada rupa itu bener-bener berlaku dalam dunia penjualan barang elektronik. Kalau bidang lainnya, mungkin hal ini tergantung penjualnya, jujur apa nda.

Lalu gimana dong?

Ga tau lah, saya sebenernya pengen banget jadi penulis yang independen hanya berdasar apa yang saya pikirkan dan saya dapatkan dari pandangan orang lain. Artinya, subyektif dan obyektif. Walau tawaran job dari perusahaan apalagi yang perusahaan terkenal itu biasanya relatif besar, tapi hati ini kurang sreg gitu kalau independensi terkotori dengan tujuan yang diinginkan sponsor. Padahal sponsor biasanya ga minta sih, tapi refleks aja gitu hati ini pengen ngedukung yang bayar. ckck.

Antara jujur, blak-blakan, atau ngebagus-bagusin produk, kira-kira gitu deh.

Jadi ngerti saya, kenapa serangan subuh itu mujarab buat menangin pilleg.. haha.


Dari Kompas, minjem ya oom gambarnya...

1 Response to "Terkotorinya Independensi Karena Sponsor"

  1. memang susah sih buat independen ketika sudah terikat dengan suatu instansi atau lembaga. tapi ya mau gimana lagi kalau sudah ada money memang susah sih, tapi hal ini jangan diterapkan ya ketika bekerja dimedia, takutnya ketika meliput sesuatu dan diberi imbalan akan terbawa dg hal itu, alhasil tulisan tidak objektif.

    ReplyDelete