FOTO dan Story: Pojok Pantai Truntum, dan Kondisi Pantai Patimban Saat Ini

2 hari yang lalu, saya menyempatkan untuk berkunjung ke pantai yang cukup menyimpan kenangan bagi saya dan keluarga.

Kebetulan, pagi-pagi banget, saya harus nganter tante untuk naik bis jurusan Jakarta, jadi pulangnya terpikir untuk mampir dulu, well... ga tepat juga sih disebut mampir, karena lebih jauh lagi perjalanannya.

Dibanding 2 tahun lalu kira-kira, kondisi jalan ke Patimban dan Truntum sekarang terlihat lebih parah, meski di beberapa ruas sedang ada perbaikan dan pengecoran jalan.

Hal ini tidak lepas dari menurunnya pengunjung pantai Patimban secara signifikan. Meskipun Truntum masih sangat terkenal dengan pasar dan lelang ikan laut, ternyata tidak terlalu berpengaruh pada pengembangan dan perbaikan akses.

Setelah mengocok perut akibat jalan rusak, akhirnya saya tiba juga di kawasan wisata pantai Patimban, tepatnya saya kurang ingat, Patimban Kelapa atau Kelapa Patimban, entahlah.

Pagi-pagi, sekitar jam 6.30, kawasan ini masih sangat sepi, hanya beberapa orang yang sudah mulai besiap menjalani hari-hari, sebagian ada yang berkumpul di beranda rumah, mengobrol, mungkin sisa-sisa tadi malam. Maklum, kawasan ini agak terkenal 'nakal' di saat malam hari.

Kalau melihat gubug-gubug ikan bakar, terlihat masih sangat terawat, artinya pengunjung di tempat ini saya rasa masih cukup ramai di siang, sore, dan mungkin malam harinya. Penjual es kelapa muda juga ga sedikit, tapi masih tutup semua. Meski tutup, karena penutupnya hanya pagar bambu, tentu masih terlihat jelas tumpukan kelapa muda yang siap dijajakan di siang hari.

Tapi itu hanya di bagian depan. Saya putuskan untuk terus masuk ke kawasan yang lebih dalam, maka kondisinya semakin tampak sudah jarang dikunjungi wisatawan. Untuk yang nongkrong-nongkrong iseng sih kayaknya masih lumayan banyak.

Saya turun dari motor, mengambil video dari ujung ke ujung pantai.. lalu menaiki batu-batu pembatas pantai yang difungsikan juga untuk memecah ombak.

Karena dari rumah saya dibekali nasi bungkus untuk sarapan, langsung saya keluarkan, dan makan di tepi pesisir. One of my best breakfast meski nasinya nasi kampung harga dua ribuan perak.


Setelah melalap habis nasi, saya sempatkan menikmati sepoian angin dan debur ombak, saat itu matahari sudah mulai naik tinggi.


Setelah mengambil beberapa foto dan video, saya lanjutkan untuk menyusuri pinggir pesisir yang lebih dalam. Terlihat hanya rumah-rumah penduduk yang saya gak begitu yakin, apakah rumah permanen atau hanya sementara. Tidak sampai ujung, saya putuskan untuk kembali. Saya berpikir, sepertinya kawasan ini benar-benar sudah menjadi kawasan pemukim, gak enak kan kalau jadi pengganggu, masih pagi.

*kayaknya masih ramai di hari libur kali ya....


Setelah keluar dari kawasan pesisir pantai Patimban, saya lanjutkan ke daerah Truntum. Tidak jauh tentunya.

Di Truntum, Anda bisa mendapatkan ikan laut dengan harga yang relatif lebih terjangkau dan kondisi ikan yang masih segar, biasanya. Di sini juga ada lelang ikan, saya rasa yang ikut seringnya hanya pedagang-pedagang.


Baru masuk daerah Truntum, sudah terlihat pasir-pasir pantai yang saya yakin sekali dibuat oleh penduduk situ, khususnya oleh pemilik warung-warung ikan bakar di sekelilingnya.

Kenapa, karena 3 - 5 tahun lalu, saya ingat betul, di pasir-pasir ini, sudah ditutup oleh batu pembatas. Sedangkan area pantai hanya bisa diakses oleh roda dua dengan menyebrang jembatan perahu, dan mobil harus lewat Sukra.


Hanya beberapa meter persegi saja area yang ada pasir pantainya, selebihnya sudah dibatasi batu-batu. Kalau Anda ingin menikmati ikan bakar sambil diterpa angin sepoi pantai, bisa coba tempat ini, siang - sore hari, kalau malam, saya ga yakin. Tapi mungkin tetep buka juga malam hari.

Worth kah untuk menikmati ikan bakar di sini dari perjalanan lintas Pantura? Well, saya pikir tidak. Akses jalannnya lumayan menyiksa, dan cukup jauh juga. Kasian keluarga Anda.

*Kira-kira area pantai yang lebih lebar tepat lurusan arah ini...

Mungkin alternatifnya bisa masuk kawasan pantai yang aksesnya dari Sukra. Atau makan di rumah makan ikan bakar tepi pantai di daerah Eretan, iya saya tau, mahal.

*makasih ya udah nganterin :)

Ada satu lagi pantai yang dulunya cukup terkenal di Subang Pantura, Pondok Bali. Kondisi saat ini konon sudah kurang layak untuk dijadikan tempat wisata. Kalau nongkrong-nongkrong mungkin lumayan asik. Sayangnya, belum ada yang mau nemenin saya mengunjungi pantai ini, hiks. Biasa.. Akses jalannya sangat memprihatinkan, katanya. Padahal saya kangen banget, pengen ngunjungin sekali lagi, untuk yang terakhir. Maklum, saya suka mengenang masa lalu yang unforgettable.

Tempat wisata di Subang Pantura sangat-sangat terbatas, sedangkan jika ke Subang yang ke arah selatan, lumayan lebih banyak, karena sudah berdampingan dengan pegunungan dan kebun teh. Suatu saat akan saya jelajahi semua. Muha,

1 Response to "FOTO dan Story: Pojok Pantai Truntum, dan Kondisi Pantai Patimban Saat Ini"