Mencari Panutan

Di jaman yang serba edan ini, sudah seharusnya kita punya panutan yang bisa kita jadikan pegangan agar gak tersesat.

Sulitnya, sering kita berpikir bahwa kita sendiri bahkan sudah pantas dijadikan panutan orang lain. Ngeri.

Seseorang yang sudah menjadi public figure, punya massa, punya fans, bisa jadi sudah berpikir dialah panutannya. Padahal kalau kita pikir, dia itu siapa? punya background pendidikan apa, punya kebiasaan apa, dsb.

Salah-salah, bisa menyesatkan ribuan manusia.

Yang jadi masalah sekarang, cari panutan itu susah. Cari yang kelemahannya sedikit, celanya sedikit, itu gak gampang. Ayah saya pernah berkata, kita itu harus mengikuti Rasulullah sebagai panutan, nah, panutan hidupnya, adalah yang paling dekat dengan cara hidup Rasul, adalah Kyai, 'Alim 'Ulama.

Sayangnya lagi, tidak banyak Kyai yang bisa kita ikuti untuk menghadapi dunia yang modern (gaya hidup modern). Misal ngikut anaknya Kyai, kadang malah, uhm... apa ya... takut.

Sayangnya juga.. Banyak masyarakat awam agama, yang tidak hormat pada kyai, tidak cinta kyai, malah mengolok-olok, astaghfirullah. Begitu mudahnya menghina seorang yang berilmu.

Berpegang pada Al-Qur'an dan Hadist memang satu-satunya cara agar selamat. Syaratnya, kita paham ilmunya, kita tidak serta merta menafsirkan Al-Qur'an dan Hadist semau kita. Ngeri juga itu.

Dan cara termudah untuk mempelajari Al-Qur'an dan Hadist adalah dengan berguru, mesantren, belajar ilmu nahwu shorof, dan belajar dari orang-orang yang memang ahli di bidangnya.

Gambarannya, berpegang teguh pada Al-Qur'an dan Hadist di jaman akhir itu macam memegang bara api.. Luar biasa berat dan menantang..

Mudah-mudahan kita semua selamat dari fitnah dunia, aamiin.


0 Response to "Mencari Panutan"

Post a Comment