#CERITAELMUHA #1

Sabtu pagi, ya, hari itu hari Sabtu. Sejak pagi, bukannya aku santai, aku menyiapkan alat dan bahan untuk mencangkok pohon mangga. Hari itu, aku dan keluarga sudah merencanakan untuk pergi ke ibukota provinsi. Tujuan utamanya untuk mengantarku ke bandara untuk kembali merantau ke negeri seberang, tanah jawa.

Sejak hari pertama pulang, ibu dan kakak sudah mewanti-wanti agar aku bisa mencangkok pohon jambu air milik tetangga yang rumahnya hampir tepat di depan rumah keluarga kami.

Tapi aku selalu menunda bahkan sudah yakin bahwa aku masih terlalu berat untuk main ke tetangga kami itu.

Untungnya, ibu bisa mengerti dan akhirnya hanya memintaku mencangkok pohon mangga milik sendiri, untuk jaga-jaga, barangkali pohon yang sudah terbukti menghasilkan buah mangga yang enak ini tumbang karena struktur tanah yang sudah kurang meyakinkan.

Halaman kami cukup luas, tapi setiap 5 tahun, pasti sudah berubah drastis dan pohon-pohon yang tadinya di depan rumah, sudah hilang entah kemana. Kemungkinan besar sudah terbakar habis, solusi singkat untuk menghilangkan jejak bekas tumbuhan di daerah-daerah yang masih kurang peduli lingkungan, ah, bodo amat ya kan.

Dan aku cukup yakin, 5 tahun lagi, mungkin sebagian area yang masih bisa dipakai untuk taman ini, akan musnah juga untuk menambah area kosong untuk parkir. Dan aku cukup yakin, aku yang akan memangkas dataran tanah beserta beberapa tumbuhan dan tanaman di situ.

Mencangkok adalah cara paling praktis untuk menggandakan pohon dengan kualitas hasil buah yang sama seperti induknya. Cara mencangkok sudah aku dapatkan sejak kelas 6 Sekolah Dasar, tanpa perlu belajar lagi, aku masih hapal seratus persen bagaimana cara mencangkok, waktu di Sekolah Dasar, guru yang sangat berjasa itu, menyuruh kami sekelas untuk mencangkok pohon untuk nantinya di tanam di belakang area sekolah. Waktu itu aku berhasil mencangkok sebuah pohon jambu air.

Setelah mengupas bagian kulit batang pohon, aku pergi ke belakang rumah. Melewati area pohon-pohon sawit, hingga ke pekarangan rumah paling belakang. Dulu di sini ada semacam kolam untuk mandi-mandian. Sekarang, malah ada satu empang yang cukup besar dan cukup mengerikan. Aku sering berpikir, pasti di dalamnya ada biawak yang sedang santai ngadem.

Aku mencari tanah yang lebih bertahan di kondisi terik matahari dan kemarau. Tanah liat cukup bagus walaupun sebenarnya aku lebih suka tanah humus.

Untunglah ada tanah hitam yang konturnya seperti tanah liat, aku cukup yakin, tanah ini sangat cocok untuk mencangkok. Aku ambil tanah itu menggunakan gatul dan dimasukkan ke kantong plastik.

Tak sampai 30 menit, aku sudah menyelesaikan proses mencangkok hingga akhir. Aku lebih suka menggunakan plastik untuk membungkus tanahnya, bukan menggunakan ijuk, jujur alasannya karena aku malas saja untuk mencari ijuk di pekarangan rumah, jaman sekarang kalau mau nyantan ada santan kemasan yang sungguh ekonomis. Tidak mengupas kelapa seperti dulu. Bahkan pohon kelapa di rumah keluarga kami pun sudah musnah, padahal dulu jumlahnya lebih dari tiga pohon.

Sebagai sirkulasi udara dan pembuangan air yang berlebihan, tentu aku sudah membolongi kecil-kecil di banyak bagian plastik pembungkusnya.

Selesai...

PRku yang aku tunda selama hampir 2 bulan di rumah sudah kukerjakan di hari terakhir aku berada di rumah.

Aku berniat istirahat dulu, lalu kemudian mencangkok lagi di batang pohon yang lebih besar. Sudah kebiasaanku kalau mencangkok akan membuat dua cangkokan untuk jaga-jaga barangkali tidak berhasil salah satunya.

Tapi ternyata aku tidak sempat lagi untuk mencangkok, uhm, sebenarnya karena sudah agak letih juga setelah packing barang-barang yang akan aku bawa ke tanah perantauan.

Maklum, malamnya aku belum sempat packing karena agendanya adalah membakar ayam satu ekor untuk lalu dimakan bersama keluarga, malam terakhir yang melegakan hati.

Memanggang ayam ternyata sangat mudah menggunakan tungku. Memang membuat bara apinya tidak bisa dibilang gampang kalau belum pengalaman. Dengan naluri liar, aku berhasil membuat bakaran api yang bara-nya sungguh membuat hati bergidik, membayangkan seperti apa panasnya api neraka, naúdzubillah...


Hasil panggangan ayamku cukup memuaskan, matang sampai semua bagian, ada bagian yang gosong sih, tapi itu agak disengaja.

Aku memilih tempat bakar-bakarannya di belakang rumah, gelap dan cukup ngeri bagi yang tidak bermental kuat gak takut hantu seperti aku. Tapi yang menghibur, aku ditemani oleh bulan yang bersinar terang di atas kepala. Ahh... sungguh indah malam itu. Andai saja tidak ada suara mesin diesel yang kami hidupkan karena saat itu PLN sedang mati lampu.

Akhirnya aku ditemani oleh adik perempuan yang tiga tahun lagi akan ikut merantau ke tanah jawa untuk membekali diri dengan ilmu, insyaAllah ya.

Proses memanggang ayam yang ini sangat berbeda dibanding pengalaman-pengalaman aku membakar lainnya.

Rasanya sungguh ikhlas dan menikmati setiap waktunya, tidak ada rasa kesal meski harus sendirian di belakang rumah yang gelap itu. Tapi jangan samakan dengan belakang rumah-rumah di jawa ya. Halaman dan pekarangan belakang rumah di sumatera itu luas, luas sekali. Yang terlihat hanyalah gelap dan sekilas pohon-pohon sawit yang menjulang tinggi.

Andai ada pocong yang tiba-tiba berdiri di depanku, mungkin aku sudah siap dan tidak tercengang karena aku sudah mempersiapkan diri.

Ya, malam terakhir di rumah untuk liburan kali ini terasa syahdu. Alhamdulillah.

Ayahku, well... malam itu cukup sibuk membuat tembok di salah satu bagian rumah, memisah secara permanen bagian garasi mobil serta gudang dengan bagian warung utama. Aku sudah membantu di siang harinya, lagi pula, kami tau tugas masing-masing malam itu. Aku mbakar dan mempersiapkan barang-barang bawaanku, ayah menyelesaikan kerjaan karena akan mengantarku ke ibukota provinsi hampir dua hari dua malam. Sementara itu, kakak dan ibuku bertanggungjawab menjaga warung.

Malam itu, aku sukses tidur dengan nyenyak, yah... lumayan lah, meski tidurnya tetap terlalu terlambat, sekitar jam 3 dini hari.


Besoknya, setelah menyelesaikan proses mencangkok sebagai PR dari ibu, bersiap-siap, kami sekeluarga akhirnya berangkat dari rumah dengan tujuan Pekanbaru, ibukota provinsi kami.

Bersambung....

#CERITAELMUHA adalah seri cerita personal saya tentang kejadian nyata yang dialami. Tujuannya, mungkin untuk belajar menulis cerita, dan... supaya plong aja ;)

0 Response to "#CERITAELMUHA #1"

Post a Comment