Silaturahim yang Benar. Jangan keliru!

Silaturahim, (atau silaturahmi), kalau mau dieja secara benar, menurut saya seperti ini; Shilaturrahim.

Bukan menurut saya sih, tapi menurut racikan saya. Panduannya tetap dari ketentuan bersama untuk mengeja huruf arab ke Indonesia.


Harta yang paling berharga, adalah, keluarga.. 

Itu sepenggal lirik lagunya gak tau siapa.. Saya gak tau, maksudnya, itu lagunya siapa.


Di dunia ini, keluarga dan saudara adalah harta termewah. Seperti halnya harta uang benda yang sangat kita jaga, maka keluarga tentunya harus lebih kita jaga.


Setuju gak? Ya kalau enggak setuju monggo dikomen..


Sayangnya, sekarang ini, kebanyakan dari kita seakan tidak terlalu peduli dengan keluarga. Atau, ketika peduli, malah bisa-bisa disalah-artikan, malah bisa disalah-gunakan, ah, macam jabatan saja ya disalah-gunakan.


Jumát lalu, Khotbah di masjid sini disampaikan oleh ayah saya, dan pesan-pesan yang disampaikan adalah tentang silaturahim ini.


Seperti apa silaturahim yang benar.


Dijelaskan bahwa, maksud kata Ar-rahim itu bukanlah kasih sayang, melainkan, rahim ibu (ini dari sumber lain).

Jadi, yang dimaksud Silah Ar-rahim, adalah menyambung tali persaudaraan. Jadi saudara di sini termasuk juga keturunan-keturunan sedarah. Kita sebut, Sanak Saudara.

Apakah harus disambung kalau tidak putus? Tidak, yang harus adalah dijaga.

Bagaimana kita tau bahwa hubungan tsb putus atau tidak, perlu disambung atau tidak?

Cara mudahnya begini; kalau biasanya ada sesuatu, lalu tidak ada, maka itu berubah, bisa jadi putus, mesti disambung lagi.


Misalnya, biasanya adik saya main setiap Sabtu malam, lalu malam ini tidak, ternyata minggu depannya juga tidak, maka itu bisa jadi putus. Mungkin ada masalah, pertengkaran yang harus segera diselesaikan.


Well, saya pernah seperti itu dengan kakak saya. Lama tidak ada komunikasi, lalu saya coba sambung kembali di hari lebaran.

Ya, paling gampang menyambung tali persaudaraan itu memang pas lebaran sih. Dan yang muda sebaiknya mengalah untuk datang ke yang lebih tua.

Apakah harus di hari lebaran?

Tentu tidaaak.

Di hari-hari biasa sepanjang 365 hari ya kira-kira, setahun, itu tetap kita harus menjaga Ar-rahim ini. Jangan sampai putus, kalau putus ya disambung lagi.

Kalau canggung, malu, gak enakan, maka manfaatkanlah moment-moment dalam setahun untuk bertemu dan menyambung tali persaudaraan.

Lalu, bagaimana dengan orang lain yang tidak masuk dalam keluarga dan persaudaraan?

Maka yang paling utama adalah menyambung hubungan dengan 'Ulama. Soan kalau bahasa santri.

Saat lebaran, setelah keluarga, maka orang 'alim di daerah situ, adalah yang paling utama untuk dikunjungi dulu.

Lalu, baru orang-orang lainnya. Tetangga, teman, dsb. Asalkan tidak ada yang batil, maka lakukanlah hubungan pertemanan.

Jangan sampai disalahkaprahkan Silaturrahim ini.

Jangan digunakan istilah ini untuk sesuatu yang batil.

Memang, kata Silaturahim atau Silaturahmi ini sudah masuk dalam KBBI, artinya sebagai berikut;

silaturahmi/si·la·tu·rah·mi/ n tali persahabatan (persaudaraan): malam --; tali --;
bersilaturahmi/ber·si·la·tu·rah·mi/ v mengikat tali persahabatan (persaudaraan): mereka - ke rumah sanak saudaranya
Di situ, makna utamanya adalah untuk tali persahabatan, dalam kurung, persaudaraan.

Jadi, bahkan di KBBI pun Silaturahim ini diartikan juga untuk persaudaraan.

Dalam bahasan di kitab-kitab para 'Ulama, dijelaskan bahwa makna sebenarnya adalah persaudaraan. Persahabatan ini bonus saja.

Begitulah kira-kira, arti Silaturahim yang benar sesuai panduan dari para 'Ulama.

Dalil?

Tentu saja kitab-kitab 'Ulama itu ya semuanya berdasarkan dalil. Gak mungkin bikin asal-asalan tanpa sumber yang jelas dari Al-Qur'an Al-Karim dan Hadist Nabi.

Kalau Anda mau tau apa saja dalilnya, monggo kunjungi halaman berikut; https://muslim.or.id/28640-salah-kaprah-memaknai-silaturahim.html

Semoga bermanfaat.

.................................

Saya punya prinsip yang sebenarnya belum saya jadikan prinsip, cuma prinsip sementara aja untuk saat ini;

Gak apa-apa aku gak deket ama teman-temanku, bahkan gak apa-apa banyak orang gak suka diriku, asalkan orang tuaku, terutama Ibuku... masih cinta diriku. Dan tidak ada persaudaraan yang putus.

Ini juga yang membuat aku selalu lebih concern tentang keluarga dan saudara, dibanding pertemanan yang gak jelas juntrungannya. Manfaat ada, tapi dalil-dalil sudah memandu kita, bahwa keluarga dan saudara, adalah lebih penting dari hubungan lainnya. Bukannya yang lain tidak penting, hanya beda keutamaan saja.

udah pada kucel. ilang satu anggotanya...

0 Response to "Silaturahim yang Benar. Jangan keliru!"

Post a Comment