Kebahagiaan di Dunia menurut Islam | Bagaimana cara menggapainya?

- Istri/Suami Sholeh/-ah

- Rumah Lega dan Nyaman

- Kendaraan yang memudahkan

- Tetangga yang baik berakhlak


Keluarga itu surga dunia. As simple as that.. (surga dunia yang hqq)

Istri/suami, rumah/tempat tinggal, motor/mobil, dan tetangga, semuanya berhubungan erat dengan satu hal; Kehidupan Keluarga!

Mungkin 4 poin di atas enaknya ditambah satu yah, anak!

Jadi, kita gak boleh ngomong yang enggak2 yah kalau ada orang lain bangun rumah gedong, atau beli mobil bagus, dibolehkan kok.. 

Cuma ya... sebagai orang yang punya duitnya mesti tau keadaan juga dan tetep harus selalu memperhatikan kondisi tetangga2nya, misalnya ada yang kelaparan maka bantulah, sambil bangun rumah gedong gak apa-apa, kan sebagai bukti mensyukuri nikmat Allah juga..

Sedangkan untuk kendaraan, toh dari zaman Nabi pun, kendaraan yang berkelas itu memang sangat dibolehkan, karena tentunya bisa semakin memudahkan kita untuk beribadah dan syiar agama.

Cuma ya sekali lagi, perhatikan tetangga2nya juga... kalau ada yang sampai kelaparan seharian, sedangkan si orang kaya ternyata punya mobil Lexus LX570 misalnya, maka bisa menjadi dzolim banget.

Tetangga yang baik beragama... 

Dalam Islam, memilih lokasi rumah itu dimulai dari lingkungan kehidupan sekitarnya dulu, apakah baik, apakah bisa meningkatkan atau minimal menjaga keimanan kita, jika iya, barulah kita bisa bangun rumah di situ.

Jika lingkungan tetangga itu rusak, maka akan mudah rusak pula lah kita...

Tetangga yang hidup dengan cara yang baik berakhlak, akan sangat mempengaruhi level bahagia kita hidup di dunia, bersamaan dengan proses kita membekali diri menuju akhirat.

Bayangkan, eh gak perlu dibayangkan sih, karena sudah sering merasakan... 

Tetangga yang suka mencuri barang-barang tetangga lainnya? Banyak kan!

Tetangga yang tidak saling pengertian, menggunakan knalpot racing dan digeber-geber di jalan sempit... Bayangkan bagaimana emosi kita jika hidup dengan tetangga macam itu.

Tetangga yang gak suka berangkat jamaah ke Masjid atau Musholla, malah sering membunyikan lagu-lagu dangdut m3sum pakai audio system segede gaban, pasti akan mengganggu proses ibadah kita.

Tetangga yang.. ah macam-macam lah...

Jadi, sebelum membangun rumah, atau membeli tanah, atau zaman sekarang membeli rumah yang sudah jadi, maka perhatikan dulu bagaimana kehidupan sekitarnya. 

Sekedar AMAN itu belum cukup. Apakah aman, baik, dan nyaman?

Apalagi MURAH, ahh... masa sih cuma karena perbedaan harga 100 juta misalnya, kita rela mengorbankan kenyamanan hidup selama puluhan tahun ke depan?

Nah itu, 3 hal kebahagiaan di dunia yang bisa sangat mudah kita dapatkan.. Tinggal cari duit, beli mobil bagus, atau rumah bagus dan di area yang baik, selesai..

Berikutnya yang lebih susah, adalah memiliki pasangan hidup yang baik agamanya, dan anak yang sholeh-sholehah...

Soal pasangan hidup, kali ini saya skip dulu ya... Intinya sih, untuk sekarang saya pasrahkan pada Allah Yang Maha Kuasa. :)

Soal anak, ini ngeri-ngeri sedap...

ANAK memang salah satu harta yang dititipkan Allah untuk kehidupan kita di dunia, dan juga sebagai bekal kita di akhirat..

Anak yang sholeh/ah, selain memberikan kebahagiaan di dunia, insyaAllah sampai kita di akhirat pun begitu.

Mendidik anak apalagi di zaman sekarang, pasti sangat menantang bahkan bayangan saya sangat menyeramkan..

Saya yang masih sebagai anak juga, sebenarnya masih termasuk didikan zaman dulu yang masih sangat baik berkualitas tanpa banyak gangguan yang merusak..

Namun saya juga sudah termasuk generasi Z yang mengalami transisi dari era tradisional ke modern dalam waktu yang begitu cepat dan ekstrim perubahannya.

Bayangkan di zaman tahun '99, saat masa peralihan dari Orde Baru ke era Reformasi, teknologi masih segitu-gitu aja... Sekarang, 20 tahun kemudian sudah gila sekali perubahannya..

Ya, mungkin 20 tahun bagi Anda tidak sebentar, tapi cobalah bandingkan antara ratusan tahun sebelum tahun '99, bandingkan dengan setelah '99. Bagaimana gaya hidup manusia bisa berubah dengan begitu cepatnya. (ya memang siklus gaya hidup itu berulang sih)

Dalam keluarga saya, mesantren itu sudah menjadi kewajiban setelah lulus SD. Namun di zaman sekarang, bahkan yang mesantren pun akan sangat sulit menghadapi godaan2 dunia yang semakin rusak ini.. Bukan berarti pilihan mesantren menjadi tidak menguntungkan lagi...

Justru karena semakin rusak dunia ini, mesantren menjadi semakin wajib. Macam-macamnya bisa menyesuaikan, bisa saja mesatren di sekitar lingkungan tinggal sehingga masih dekat dengan orang tua, atau yang lebih jauh.

Kenapa harus mesantren?

Begini...

Kebanyakan kehidupan anak akan mudah terperosok itu karena kurangnya pengawasan orang tua.. 

Kok bisa?

Karena yang kita ketahui bersama, berbagai macam alasan orang tua, enggan terlalu peduli karena mereka terlalu sibuk mencari uang dan nafkah untuk biaya hidup yang semakin beragam dan menuntut.

Sedangkan di pesantren, kehidupan anak-anak santri itu semakin tertata, terjaga, dan tertib harus mengikuti peraturan.

Namun sekali lagi, bukan 100% bebas dari gangguan luar. Sama sekali tidak..

Di sinilah peran orang tua itu masih sangat dibutuhkan, tentunya selain didikan para ustadz-ah.. Semakin ketat sebuah pesantren menurut saya semakin baik hasilnya, tapi tentu ada batasan-batasan yang tidak terlalu mengekang sehingga tidak membuat para santri kaget saat keluar dari lingkup pesantren.

Bicara soal anak... Sebenarnya yang saya tuliskan tadi adalah curhatan saya pribadi, dan nasehat saya pribadi ke diri sendiri, untuk masa saat saya dititipi anak oleh Allah nanti, insyaAllah...

Saya gak punya pengalaman bagaimana cara mendidik anak, tapi setidaknya saya sudah mengalami langsung bagaimana respon2 seorang anak menghadapi jalan hidup di era millenial, ya, dari kehidupan saya sendiri. Saya gak mau kesalahan-kesalahan yang saya perbuat, akan diulang oleh anak-anak saya, aamiin ya Rabb...

Istri dan anak, saya yakinnya, merupakan hadiah dari Allah untuk kita di dunia. Jika dapat istri cantik jelita dan super sholehah, ya Alhamdulillah... tapi kalau pun tidak, tetap akan saya syukuri.. udah jodohnya, mungkin itu pasangan yang pantas buat kita..

Semua yang terjadi pada kita adalah berdasarkan takdir atau jalan hidup kita yang sudah tertulis..

Namun Allah tidak merubah kondisi manusia jika kita tidak berusaha merubahnya, so... 

Usaha kita mencari kebahagiaan hidup di dunia, selagi mencari bekal untuk akhirat, cari istri/ suami sholeh/ah, dan belajar bagaimana mendidik anak yang baik dan benar.

Lalu, soal rumah, tetangga, kendaraan, itu bisa dengan mudah digapai kalau kita berusaha dan berdo'a, ya, ikhtiar.

Koreksi jika ada yang salah, semoga bermanfaat..

Kalau ada yang mau nambahin Hadist2nya, monggo... ini penulisnya puemales bgt...

0 Response to "Kebahagiaan di Dunia menurut Islam | Bagaimana cara menggapainya?"

Post a Comment