How to live in peace?

Pernah bayangin gak sih, hidup di rumah gedong yang guede banget, halamannya luas ribuan meter persegi, tapi di dalam rumah cuma sendiri atau berdua?

Apakah menurutmu dengan kondisi seperti itu bisa mendapatkan kedamaian?

Yes or No?

Misal untuk yang jawab Yes, coba pertimbangkan ini;

Rumah besar akan semakin banyak tempat-tempat yang luput dari pengawasan kita.

Bisa bayangin gak, gimana ngerinya malem2 terus ada suara keras di rumah, padahal ternyata tikus jatuhin sesuatu. Misalnya....

Atau ada orang yang diem depan rumah, yang tinggal di rumah mungkin was-was, apakah orang tersebut mau maling atau gimana.

Atau misal udah di dalem rumah, balik ke yang tadi di atas, mungkin bisa bersembunyi di mana aja kan.

Makanya rumah gedong biasanya pagernya juga tinggi.

Semakin tinggi pagar, menurut saya sih semakin menunjukkan gimana was-wasnya si penunggu rumah.

Nope..

Menurut saya, gak selalunya orang yang tinggal di rumah gedong, bisa hidup peaceful.

Syarat yang harus dimiliki jika kamu jadi orang kaya adalah; jangan bergantung pada kekayaanmu, dan jangan takut untuk kehilangan apa yang kau punya.

Waspada ya harus, tapi gak boleh dikit-dikit was-was.

NOW...

Gimana dengan orang yang kebalikannya, MISKIN.

Apakah dia bisa hidup peaceful?

Ketika buat makan aja masih susah?

Ketika dia harus melakukan banyak hal yang bikin gak nyaman, terpaksa karena tidak ada uang untuk menebus kemudahan?

Misalnya, harus jalan kaki kepanasan, harus ujan-ujanan. bahkan buat sedia makanan seminggu aja gak bisa.

Akan peaceful?

Iyes, jika dia pasrahkan semuanya pada Yang Maha Pengatur.

Nope, jika dia ternyata takut.

Jadi, kuncinya adalah di mindset.

Walaupun saya yakin banget; banyak yang memilih gak damai asalkan punya banyak duit, dibanding gak damai dan miskin.

Tapi jujur sih, jika saya bisa damai dengan kemiskinan, I don't mind at all jadi orang miskin.

Masalahnya, saya tidak bisa damai dengan kondisi kekurangan.

Udah belajar berulang-ulang, tidak bisa.

Jadi, minimal adalah kecukupan saja.

Yang penting cukup, lalu hidup sederhana aja.

Dulu saya pernah menghayal punya rumah gedong gitu kan, sekarang udah engga.

Saya ngayalnya punya rumah standar aja, yang penting punya area buat usaha, ruang kantor, tempat sholat, dapur, dan kamar mandi. Bahkan buat tidur pun saya bisa di tempat sholat atau di ruang kerja.

Kalau mau menikmati kemewahan, ya mending ke hotel aja, misal sekali seminggu, atau dua kali sebulan, dst.

Loh, kan investasi juga bro?!

Iya betul, tapi saya pikir sih mending investasi dengan bentuk tanah, ruko, emas, saham, dll.

Loh kan duitnya ratusan milyar bro?!

Ya itu sih terserah die mau bikin apapun.

Tapi prinsipnya; kalau mau hidup damai, jangan takut untuk kehilangan.

Ada contohnya?

Yang saya perhatikan adalah Rafi Ahmad. 

Raffi tidak takut mobil2 yang milyaran itu kenapa2. Makanya waktu Lamborghini-nya kebakar, ya Raffi biasa aja.

Raffi juga bolehin orang-orang tertentu make mobilnya, ya biasa aja. Cuma mobil.

Coba deh, kalau orang yang eman-emanan.

Mobil gak boleh kotor, gak boleh kepanasan, keujanan harus langsung dicuci, jarang dipake karena eman, dsb.

Ya itu bagus, tapi ketika mobilnya lalu terpaksa tidak bisa begitu, maka pemiliknya bakal stres.

Aduh bang Raffi mah udah kebanyakan duit!

Ya bener, tapi tetep aja, mentalnya berbeda dengan orang kaya lainnya.

Yang kaya gitu mesti ditiru.

Menganggap barang ya sebagai barang, tok! Gak lebay.

Mobil ya dipakai. Kotor ya wajar.

Ya kira-kira gitu lah.

Sekarang,

Contoh aja.

Bisa nyamankah kamu, misal keluar rumah atau pergi agak jauh, dan jauh banget, gak bawa HP. Ketinggalan misalnya... 

Bisa nyaman gak? Bisa damai gak?

Bagi sebagian orang iya bisa aja, orang di rumah aja jarang pegang HP.

Ya itu mah exception.

Gimana kalau yang biasanya harus pegang HP. Kemungkinan ya gak nyaman banget.

Kecuali sengaja ditinggal, saya biasanya kalau jarak deket kadang gak bawa HP, ya biasa aja.

Pada akhirnya, yang bikin damai adalah ketika kita gak bergantung pada sesuatu selain Allah dan diri kita.

Yang bikin damai juga adalah ketika kita Percaya Diri, atau malah, Bodo Amat.

Yang bikin damai adalah yang mudah memaafkan dirimu sendiri ketika berbuat kesalahan, atau hal memalukan.

Dan akhirnya, mungkin kita butuh latihan agar bisa hidup damai.

Terbiasa hidup kurang, mungkin jadi biasa aja. Damai-damai aja hidupnya walaupun kekurangan.

Terbiasa hidup serba ada, dan gak takut kemalingan, ya akan damai-damai saja.

Yang susah adalah, ketika kondisinya naik turun kali ya.

Beberapa lama hidup cukup, lalu kekurangan, begitu bolak-balik..

Harusnya pas lagi kecukupan, inget aja bahwa kamu biasa kekurangan. 

Pas kekurangan, kamu inget aja kamu kapan-kapan juga kecukupan.

Namanya idup, penuh lika-liku, naik turun, bergelombang, menghadapi hambatan, dsb.

Santai aja gak usah panik gak usah lebay..

Baru deh bisa idup damai.

Bonus; jika kamu resah melihat kondisi ummat akhir zaman, sadarlah, bahwa kondisi seperti ini sudah dikatakan oleh Rasulullah, jadi gak usah kaget, apa yang dikatakan sejak ribuan tahun lalu; terbukti.

Santai aja. Sudah takdirnya begini bro...

Dan terakhir; semakin sedikit keinginan, maka akan semakin damai hidup kamu. Karena, keinginan adalah sumber penderitaan. OI said that.



Mohon share jika dan hanya jika info ini bermanfaat atau menginspirasi :)
Ikuti yuk "Oase Iman" lewat FB, "Damaikan hati, cerdaskan akal.."

0 Response to "How to live in peace?"

Post a Comment