Ads

Selamat Jalan Nenekku dan Niniku

Jadi Nenekku beberapa hari yang lalu meninggal.

Akhirnya seperti sudah tradisi keluarga, saya baru balik ke kost itu 3 hari yang lalu lah. Setelah 7 hari lebih di Tanah Kelahiran.

Semua keluarga berkumpul, hampir semua. 

Ramainya rumah bahkan lebih ramai dibanding Lebaran 'Idul Fitri. 

Ya asyik. 

Sedih karena ditinggalkan jadi gak begitu terasa karena berkumpulnya anggota keluarga. 

Ada yang dari Riau, Jambi, Jakarta (paling banyak), Kediri, dan ada yang dari Jogja; saya.

Setelah kembali ke Jogja, saya juga langsung njemput adek untuk lalu pulang ke rumah nan jauh di sana.

Saya tidak pulang.

Adekku seakan memaksa agar saya mudik Lebaran.

Tapi entahlah, pikiran saya seperti sudah bulat bahwa saya tahun ini Lebaran tidak bersama keluarga.

Saya akan berkumpul dengan keluarga di Jawa tentu saja, keluarga dari Orang Tua saya.

Meninggalnya Nenek saya seperti apa ya rasanya, agak aneh melihat kata-kata bahwa Nenek saya sudah meninggalkan dunia ini.

Rasanya seperti masih ada.. Seperti biasanya.

Aah, begitu mudahnya ya manusia pergi.

Mungkin saya juga tidak lama lagi. Ya semoga saya mendapatkan umur yang panjang sehingga bisa memperbaiki diri sebelum kembali kepadaNya. Aamiin.

Nenek saya orang baik.

Kesalahan-kesalahan kecil tentu ada, namanya aja manusia.

Tapi satu hal yang luar biasa dari Nenek saya adalah; berusaha untuk selalu Sholat Berjama'ah.

Sholat berjama'ahnya saja dijaga, maka saya hampir berani menjamin bahwa Nenek saya tidak pernah bolong Sholatnya.

Semoga Nenekku sudah berkumpul dengan Kakekku, dan keluarga yang juga sudah pergi sejak lalu-lalu.

Selepas 7 hari Nenekku meninggal, adik dari Alm Suami Nenekku meninggal juga.

Ya, Bibi dari Ayahku, adik dari Kakekku. 

Rumahnya berdekatan, tepat di depan rumah Nenekku.

Saat akan menyolatkan di Masjid, inilah pertama kalinya saya mengangkat Keranda. 

Agak ragu, takut saya gak kuat lalu terjatuh dan akan menjadi GEGER seluruh desa bahkan kecamatan. 

Tapi melihat yang mengangkat di depan saya sudah terlihat sangat keteteran, karena satu-satunya yang belum diganti sejak berangkat dari rumah, saya tekadkan untuk berani menggantikan.

Kenapa saya ragu?

Ya maklum, di desa, banyak yang bekerja sebagai petani, tangannya kekar, tenaganya besar.

Saya kerjanya megang laptop dan mouse saja. 

Akhirnya sampai juga di Masjid. 

Saat ada sambutan perwakilan keluarga, air mata saya menetes deras.

Saya teringat betapa BAIKNYA Nini saya ini.

Walaupun ekonominya kekurangan, tapi sangat-sangat mau untuk keluar uang demi memberi sangu ke saya kalau mau berangkat ke Pondok dulu.

Ya, Nini saya dan Nenek saya orang baik. 

Saya bisa menjamin itu. 

Kadang, Saya malu, apalah saya ini yang penuh dosa. Kelakuanku betapa jauhnya dari orang-orang baik.

Tapi saya meyakini 100% bahwa Allah Maha Pengampun.

Tauhidlah yang saya jaga, hingga hari kiamatku.

Innalillahi wainnailaihi roji'un...

Semoga Nenekku dan Niniku mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah.. Aamiin.



Mohon share jika dan hanya jika info ini bermanfaat atau menginspirasi :)

0 Response to "Selamat Jalan Nenekku dan Niniku"

Post a Comment