Ads

Pengusaha & Pebisnis PELIT itu gak apa-apa

Sekali lagi orang berduit dibela :d

Sebelum kalian membaca, pahamilah bahwa topik ini jelas memiliki banyak perdebatan karena perbedaan sudut pandang. Saya yakin semuanya ada benarnya.

Orang itu ya GAK BOLEH PELIT.

Tapi PELIT itu WAJAR dan manusiawi.

Dalam ajaran yang benar juga dianjurkan untuk mengutamakan keluarga dulu dibanding orang lain. Kalau pelit ke orang lain tapi loman ke keluarga, ya itu tidak salah.

Nah, ada satu lagi konteks ORANG PELIT, tapi dia itu pengusaha, pebisnis, wirausahawan, maka mereka BOLEH PELIT.

Ya bukan boleh juga sih, tapi GAK APA-APA misal mereka pelit asalkan mereka masih menyediakan lapangan pekerjaan untuk orang lain.

REJEKI itu urusan Allah.

Allah yang memberikan rizqi kepada manusia dan makhluk Bumi.

Tapi tetap saja perantaranya ya sesama manusia juga bro.

Jadi, jika seseorang berjasa menyediakan lapangan pekerjaan untuk orang lain, maka itu termasuk mulia juga.

Loh tapi dia pelit!!!

Ya tapi kan dia punya jasa memutarkan UANG dan memberikan GAJI kepada pekerjanya.

Jadi, 

PLUS MINUS yaa.

Setiap dari kita manusia biasa itu pasti memiliki keunikan dalam menjalani hidup.

UNIK itu Allah yang bikin.

Jadi kita hanya perlu mensyukuri perbedaan ini.

Ada yang BERJASA tapi pelit. Ada yang miskin tapi LOMAN alias DERMAWAN.

Emang bisa orang miskin tapi dermawan?

Ya bisa dong. Uang 5rb yang diberikan sebagai sedekah, tapi berasal dari dompet yang isinya 50rb saja, itu artinya dia menyisihkan uang 10% dari hartanya.

Sedangkan orang kaya yang menyisihkan uang untuk sedekah 100rb, sedangkan di Bank ada tabungan 2M, maka dia menyisihkan 0.005% dari hartanya. Ya katakanlah 1 juta deh, maka dia keluar 0.05% dari hartanya. Setengah % aja gak ada bro. Misal dia harus keluar sama2 10% dari harta, maka dia harus keluar 200 juta untuk sedekah. 

Lebih dermawan mana coba antara uang sedekah 5rb dari orang miskin atau 1 juta dari orang kaya?

Ya yang jelas tetep lebih gede 1 juta. :D

Tapi lantas kita tidak bisa menyepelekan sedekah kecil dari orang miskin. Dan tidak bisa terlalu memuji sedekah 10 juta dari orang kaya karena itu secuil dari hartanya.

Tapi sekali lagi, jasa orang kaya tersebut juga tidak sedikit;

1. Pajak lebih gede untuk negara.

2. Zakat lebih gede untuk orang2 penerima zakat.

3. Menyediakan lapangan pekerjaan.

Maka, hitungan mana yang lebih mulia itu hanya Allah yang bisa menghakimi.

Kita hanya bisa berkhusnudzon saja kepada orang lain dan mengambil pelajaran dari apa yang orang lain lakukan.

Misal kita tidak suka ada orang kaya pebisnis pelit, ya jadilah pebisnis yang loman. Tidak lantas kita menyalahkan mereka yang pelit karena siapa tau jasanya lebih gede dibanding orang miskin yang loman.

Terakhir, pemikiran di atas ini tidak serta-merta keluar dari kepala saya. Tentu saya tidak akan berani berkata demikian kalau tidak ada landasan dari pengetahuan dan ilmu yang lebih tinggi. 

Boleh mendebat karena saya yakin omongan kalian itu pasti ada benarnya. 

Tapi ajakan saya mungkin lebih ke ini:

1. Jadilah tidak pelit

2. Kalau pelit, jadilah pebisnis sukses

3. Kalau mungkin, jadilah pebisnis sukses yang tidak pelit

4. Jangan menghakimi seseorang lebih baik dari orang lain hanya dari satu sisi pemikiran.

Semoga kita bisa menjadi pebisnis sukses yang dermawan karena saya yakin mayoritas dari kita menginginkan itu, aamiin.

Ilustrasi pebisnis. Detik.com


Mohon share jika dan hanya jika info ini bermanfaat atau menginspirasi :)

0 Response to "Pengusaha & Pebisnis PELIT itu gak apa-apa"

Post a Comment